MITRABERITA.NET | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah parlemen Iran mengancam akan terus memperkaya uranium hingga mencapai level minimal senjata nuklir atau sekitar 90 persen jika tekanan dari Washington terus berlanjut.
Ancaman tersebut disampaikan Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, di tengah memanasnya hubungan antara Teheran dan Washington serta kebuntuan negosiasi yang terus berlangsung sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu.
Rezaei menegaskan parlemen Iran siap mengkaji ulang kebijakan pengayaan uranium apabila tekanan dan serangan terhadap Iran terus diperbarui oleh AS dan Israel.
“Kami akan meninjau ulang itu di parlemen,” tegas Rezai di akun media sosial X, seperti dikutip dari Middle East Monitor (MEMO).
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait potensi pengembangan program nuklir Iran menuju level persenjataan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga mengakui bahwa situasi gencatan senjata antara AS dan Iran kini berada dalam kondisi yang sangat rapuh.
“Saya akan mengatakan bahwa saat ini situasinya sangat lemah, seperti berada di ambang kematian,” kata Trump ke awak media di Gedung Putih, Senin (11/5/2026), dikutip AFP.
Dia lalu berujar, “Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis.”
Di tengah memanasnya situasi, Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan untuk kembali menerapkan Freedom Project, yakni operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz sekaligus mencabut kendali Iran atas kawasan perairan strategis tersebut.
Langkah itu dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia yang selama ini menjadi titik sensitif dalam hubungan Iran dan negara-negara Barat.
Meski situasi terus memanas dan negosiasi belum menunjukkan titik terang, Trump menegaskan bahwa kebuntuan yang terjadi saat ini bukan berarti Amerika Serikat mundur dari tekanan terhadap Iran.
Kondisi tersebut membuat hubungan kedua negara kembali berada dalam fase kritis dengan ancaman eskalasi yang semakin terbuka, baik di bidang militer maupun program nuklir Iran.
Editor: Redaksi












