MITRABERITA.NET | Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus ingatan kolektif rakyat Aceh, sebuah langkah sunyi namun bermakna lahir dari para penggiat budaya dan sejarah Aceh, di Kabupaten Aceh Besar.
Bukan sekadar peluncuran situs web, tetapi sebuah ikhtiar menyelamatkan jejak sejarah, merawat identitas, dan menyambungkan masa lalu dengan masa depan, agar Aceh tidak kehilangan jati dirinya di tengah dunia yang terus berubah.
Kegiatan itu dibuka secara resmi oleh Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris di Gedung Dekranasda Aceh Besar, Sabtu (02/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Lebih dari sekadar acara seremoni, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi, antara pegiat budaya, akademisi, mahasiswa dan masyarakat, untuk kembali menelusuri sejarah Aceh yang panjang dan penuh kejayaan.
Acara diawali dengan laporan panitia, dilanjutkan dengan peluncuran resmi situs web Galeri Kebudayaan Aceh oleh Bupati Muharram Idris, yang turut disertai pemutaran video dan diskusi budaya.
Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya digitalisasi arsip kebudayaan, sekaligus memperluas akses publik terhadap khazanah sejarah dan kebudayaan Aceh yang pernah berjaya pada masanya.
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan pemutaran film bertema budaya selama 30 menit yang menggambarkan kekayaan sejarah serta identitas Aceh. Visualisasi ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan generasi muda dengan akar budayanya.
Memasuki sesi utama, diskusi budaya digelar dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Diskusi dipandu oleh M. Taufik Abda sebagai moderator, dengan menghadirkan Piet Rusdi, S.Sos dari BPK Wilayah I, Rahmat Rizki, S.Pd dari komunitas Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, serta Andri Saputra, S.Sos, aktivis budaya dari GR Kreatif.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber membedah berbagai tantangan dan peluang pelestarian sejarah Aceh di era modern. Forum ini berlangsung interaktif, membuka ruang dialog yang luas antara pemateri dan peserta, sekaligus melahirkan gagasan konstruktif untuk memperkuat ekosistem budaya di Aceh.
Ketua panitia, Al Kindi Mahlil Idham, menegaskan bahwa peluncuran situs web Galeri Kebudayaan Aceh ini bukan hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai pusat dokumentasi digital.
“Dengan adanya digitalisasi ini, benda-benda sejarah yang rentan hilang atau rusak dapat tetap abadi dalam bentuk digital. Ini adalah langkah awal untuk menjaga warisan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program ini didanai melalui Dana Indonesiana yang telah berjalan sejak 2022. Berdasarkan data terakhir, Aceh menerima alokasi sekitar Rp17 miliar hingga akhir 2025.
“Kami berharap ke depan semakin banyak pegiat budaya di Aceh yang dapat memanfaatkan program ini. Galeri Budaya Aceh tidak bisa berdiri sendiri, perlu dukungan lintas elemen masyarakat,” tambahnya.
Al Kindi juga mengakui bahwa pengembangan situs web masih terus berlangsung dan akan disempurnakan secara bertahap sebagai bagian dari proyek berkelanjutan.

Sementara itu, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris dalam sambutannya saat membuka secara resmi kegiatan itu, menekankan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa Aceh.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merangsang dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Kita memiliki sejarah panjang dan pernah mencapai kemajuan besar di masa lalu,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kejayaan Aceh di masa lalu telah dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia, sehingga generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menjaga warisan tersebut.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya menjaga bahasa Aceh sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah pergeseran generasi yang mulai kehilangan kemampuan berbahasa daerah.
“Generasi Aceh yang ideal adalah yang mampu memahami dan menggunakan bahasa Aceh sekaligus bahasa Indonesia. Ini yang harus kita pertahankan,” tegasnya.
Ia menggambarkan adanya lima fase generasi dalam konteks bahasa dan budaya Aceh, mulai dari generasi asli yang hanya menguasai bahasa Aceh hingga generasi masa kini yang berpotensi kehilangan kemampuan berbahasa Aceh sepenuhnya.
“Jika kita tidak menjaga bahasa dan budaya, maka kita akan menjadi bangsa yang kehilangan jati diri. Nenek moyang kita tangguh, sementara kita hari ini adalah generasi aplikasi yang mulai menjauh dari akar budaya,” ujarnya.
Melalui momentum ini, ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Aceh Besar, untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan mewariskan budaya serta sejarah kepada generasi mendatang.
Peluncuran Galeri Kebudayaan Aceh dalam bentuk digital ini pun menjadi simbol bahwa pelestarian budaya tidak lagi hanya bergantung pada benda fisik, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Di tengah perubahan zaman, penggiat budaya Aceh mencoba berdiri tegak, menjaga ingatan, merawat identitas, dan memastikan bahwa sejarahnya tetap hidup, tidak hanya dalam cerita, tetapi juga dalam ruang digital yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja.[]






















