Penulis: Rahmah Elysia (Mahasiswa Prodi Psikologi USK)
PERNAH merasa lelah, padahal seharian tidak melakukan aktivitas berat? Tubuh mungkin diam, tetapi pikiran terasa bising, dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Bagaimana kalau gagal?”, “Bagaimana kalau tidak sesuai harapan?”, atau bahkan “Bagaimana kalau masa depan tidak berjalan baik?” sering kali muncul tanpa henti.
Fenomena ini semakin akrab di kalangan remaja masa kini, khususnya Generasi Z. Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai overthinking, kecenderungan untuk memikirkan sesuatu secara berlebihan, terutama hal-hal yang bernuansa negatif. Sekilas terlihat sepele, namun jika dibiarkan berlarut-larut, overthinking dapat menjadi pintu masuk bagi stres, kecemasan, bahkan depresi.
Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang penuh tuntutan dan ekspektasi. Mereka tidak hanya dituntut untuk sukses secara akademik, tetapi juga dihadapkan pada standar sosial yang semakin tinggi, terutama melalui media sosial. Tanpa disadari, mereka kerap membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih berhasil, lebih bahagia, atau lebih “sempurna”.
Dari sinilah lingkaran overthinking mulai terbentuk. Pikiran dipenuhi keraguan: Apakah aku cukup baik?, Apakah aku bisa memenuhi harapan orang tua?, atau Apakah aku akan gagal di masa depan? Bahkan dalam hubungan personal, muncul kecemasan berlebih yang sering kali belum tentu memiliki dasar nyata.
Akibatnya, banyak remaja kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi ragu dalam mengambil keputusan, sulit berkonsentrasi dalam belajar, dan lebih sensitif dalam interaksi sosial. Pikiran yang seharusnya menjadi alat untuk berkembang justru berubah menjadi beban yang menghambat langkah.
Padahal, overthinking tidak selalu membawa solusi. Sebaliknya, ia sering kali hanya membuat pikiran berputar di tempat yang sama tanpa arah yang jelas.
Untuk keluar dari jebakan ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa tidak semua pikiran harus dipercaya. Tidak semua kekhawatiran adalah kenyataan. Mengelola pikiran dan emosi menjadi kunci utama dalam menghadapi overthinking.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membatasi paparan media sosial. Tanpa disadari, konten yang menampilkan kehidupan “sempurna” orang lain sering kali memicu rasa tidak cukup dalam diri. Mengurangi konsumsi konten semacam ini dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang dan realistis.
Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat penting. Keluarga, teman, dan sekolah memiliki peran besar dalam menciptakan ruang aman bagi remaja untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi kecemasan dan membangun kepercayaan diri.
Tidak kalah penting, remaja perlu mulai membangun kebiasaan hidup yang sehat. Aktivitas fisik seperti olahraga, menjaga pola tidur, serta memberi waktu istirahat yang cukup terbukti membantu menenangkan pikiran. Di sisi lain, mencoba hal-hal baru yang menyenangkan juga dapat mengalihkan fokus dari pikiran berlebih.
Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, akan jauh lebih bermanfaat jika keberhasilan orang lain dijadikan sumber motivasi. Setiap individu memiliki proses dan waktunya masing-masing.
Pada akhirnya, overthinking bukanlah musuh yang harus ditakuti, tetapi sinyal bahwa pikiran membutuhkan jeda. Belajar menerima diri, mengelola ekspektasi, dan fokus pada proses adalah langkah penting untuk keluar dari lingkaran tersebut. Karena sejatinya, hidup tidak selalu tentang “bagaimana kalau”, tetapi tentang apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk menjadi lebih baik dari kemarin. (*)







