MITRABERITA.NET | Amerika Serikat kembali menunjukkan otot militernya di kawasan Timur Tengah, sebagai sinyal keras kepada Iran di tengah memburuknya hubungan kedua negara.
Washington secara resmi mengumumkan rencana latihan militer besar-besaran selama beberapa hari, beriringan dengan pengerahan armada tempur yang dipimpin kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln.
Pengerahan kekuatan gabungan udara dan laut tersebut berlangsung di tengah kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran dalam beberapa pekan terakhir.
Gedung Putih bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran, menyusul tindakan keras pemerintah Teheran terhadap demonstran pro-demokrasi yang dilaporkan menelan ribuan korban jiwa.
Komando Pusat Angkatan Udara Amerika Serikat (Air Forces Central/CENTCOM) menyatakan pada Selasa (27/1/2026) bahwa latihan tersebut bertujuan untuk menguji dan mendemonstrasikan kesiapan tempur AS dalam menyebarkan serta mempertahankan kekuatan udara di wilayah tanggung jawab mereka.
“Latihan ini dirancang untuk memperkuat kemitraan regional dan mempersiapkan eksekusi respons yang fleksibel,” demikian pernyataan resmi CENTCOM seperti dilansir CNBCIndonesia.com.
Meski waktu dan lokasi latihan dirahasiakan, manuver militer ini diyakini sebagai pesan terbuka yang ditujukan langsung kepada Iran, sekaligus upaya menekan Teheran secara psikologis dan strategis.
Armada yang dikerahkan AS bukan kekuatan biasa. USS Abraham Lincoln, kapal induk bertenaga nuklir, membawa puluhan jet tempur dan hampir 5.000 personel militer. Kapal ini juga dikawal sejumlah kapal pendamping dengan sistem pertahanan udara berteknologi tinggi.
Di sektor udara, AS mengerahkan skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle, yang sebelumnya diketahui terlibat dalam serangan terhadap target Iran pada April 2024. Inggris turut ambil bagian dengan mengirimkan jet tempur Typhoon, meski London menegaskan keterlibatan mereka bersifat defensif.
Tekanan militer ini juga diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menegaskan bahwa AS kini memiliki armada militer besar di dekat wilayah Iran, bahkan disebut lebih besar dibandingkan pengerahan saat krisis Venezuela.
Trump mengancam akan mengambil tindakan militer apabila Iran terus melakukan eksekusi massal terhadap demonstran. Laporan lembaga hak asasi manusia menyebut hampir 6.000 orang tewas dalam kerusuhan akibat devaluasi mata uang Iran, sementara sejumlah aktivis memperkirakan korban jiwa dapat mencapai 30.000 orang, diperparah dengan pemadaman internet total.
“Kami memiliki armada besar yang menuju ke sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa pintu dialog tetap terbuka jika Iran bersedia mencapai kesepakatan.
Meski demikian, manuver militer AS justru memicu kekhawatiran sejumlah negara sekutu di kawasan. Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara, darat, maupun perairannya digunakan untuk menyerang Iran. Abu Dhabi memilih menjaga sikap netral demi stabilitas kawasan.
Merespons kekhawatiran tersebut, militer AS menegaskan bahwa seluruh aktivitas latihan dan pengerahan pasukan dilakukan atas dasar persetujuan negara tuan rumah serta melalui koordinasi ketat dengan otoritas sipil dan militer setempat, sebagai bentuk penghormatan terhadap kedaulatan negara mitra.
Pamer kekuatan militer ini semakin menegaskan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, sekaligus memperlihatkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata mereda.
Editor: Redaksi







