NASIONALUTAMA

BNPB Pastikan Pengungsi Aceh Utara Tak Lagi Tinggal di Tenda Pengungsian saat Ramadan

19600
×

BNPB Pastikan Pengungsi Aceh Utara Tak Lagi Tinggal di Tenda Pengungsian saat Ramadan

Sebarkan artikel ini
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Mendagri makan bersama pengungsi dan menyerahkan bantuan makanan kepada anak-anak di Desa Seulemak, Kacamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Kamis (22/1/2026). (Foto: Humas BNPB)

MITRABERITA.NET | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan para pengungsi korban banjir di Kabupaten Aceh Utara tidak lagi tinggal di tenda pengungsian menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Seluruh pengungsi di Aceh Utara ditargetkan sudah menempati hunian sementara (huntara) atau tinggal sementara di rumah keluarga mereka paling lambat 18 Februari 2026.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto saat meninjau langsung progres pembangunan huntara di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, pada Kamis 22 Januari 2026.

Turut mendampingi dalam kesempatan itu Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA selaku Koordinator Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Aceh, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fad), serta Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil.

“BNPB memastikan seluruh pengungsi korban banjir tidak lagi berada di tenda pengungsian pada 18 Februari 2026. Mereka akan dipindahkan ke hunian sementara, sebagian lainnya tinggal sementara di rumah saudara atau keluarga,” ujar Suharyanto saat meninjau lokasi pengungsian di Desa Bukit Lintang, Kecamatan Langkahan.

Ia menjelaskan, pembangunan huntara di Aceh Utara direncanakan sebanyak 4.000 unit yang menjadi bagian dari tahap awal menuju pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir.

“Jumlah huntara yang dibangun cukup besar. Saat ini progres pembangunan baru sekitar 30 persen, sehingga memang dibutuhkan percepatan,” ungkapnya.

Dia juga mengakui tantangan utama dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini adalah skala kebutuhan yang besar serta keterbatasan waktu, mengingat target penyelesaian sebelum Ramadan.

Bagi pengungsi yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau kerabat, pemerintah menyiapkan dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per kepala keluarga per bulan selama enam bulan.

“Dalam jangka waktu enam bulan tersebut, pembangunan hunian tetap diharapkan sudah selesai. Ini menjadi solusi agar masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak sambil menunggu hunian permanen,” kata Suharyanto.

Pembangunan hunian sementara dan percepatan pemulihan pascabencana ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari BNPB, Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, hingga unsur TNI dan Polri, serta lembaga terkait lainnya.

Suharyanto optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, seluruh pengungsi dapat segera keluar dari tenda pengungsian. “Insyaallah sebelum Ramadan, kemungkinan besar pada 18 Februari, sudah tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda,” tegasnya.

Usai meninjau pembangunan huntara, Kepala BNPB bersama rombongan juga menyusuri aliran Sungai Jambo Aye di Desa Seulemak, Kecamatan Langkahan, menggunakan perahu bermesin, untuk melihat langsung sejumlah titik terdampak banjir besar 25 November 2025 yang hingga kini belum dapat dijangkau melalui jalur darat.

Editor: Redaksi

Media Online