EKONOMI & BISNIS

Ekonomi Aceh Tertekan Bencana: Ekspor Tetap Tangguh, Inflasi Mulai Melandai

236
×

Ekonomi Aceh Tertekan Bencana: Ekspor Tetap Tangguh, Inflasi Mulai Melandai

Sebarkan artikel ini
Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, saat memaparkan perkembangan ekonomi Aceh dalam pertemuan bersama puluhan wartawan di Tropicollo Banda Aceh, Rabu 21 Januari 2026. Foto: MITRABERITA.NET

MITRABERITA.NET | Perekonomian Aceh sepanjang 2025 menghadapi tekanan berat akibat bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir tahun. Namun di tengah tantangan tersebut, kinerja ekspor Aceh masih menunjukkan ketahanan, sementara inflasi yang sempat melonjak kini mulai bergerak turun memasuki awal 2026.

Hal itu disampaikan Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, saat memaparkan perkembangan ekonomi Aceh dalam pertemuan bersama puluhan wartawan di Tropicollo Banda Aceh, Rabu 21 Januari 2026.

Agus menjelaskan, sektor perdagangan luar negeri Aceh tetap terjaga sepanjang 2025. Kinerja ekspor Aceh masih tumbuh positif, terutama ditopang oleh komoditas unggulan seperti batubara dan kopi. Di sisi lain, aktivitas impor masih didominasi oleh migas, disusul oleh kebutuhan pupuk untuk sektor pertanian.

“Ekspor Aceh relatif masih baik di tengah tekanan bencana. Ini menjadi penopang penting bagi perekonomian daerah,” ujar Agus Chusaini.

Dari sisi intermediasi keuangan, pembiayaan di Aceh juga tercatat masih tumbuh, meski lajunya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami perlambatan dengan kontraksi sebesar -1,15 persen (year on year) pada triwulan IV 2025, mencerminkan kehati-hatian masyarakat dan pelaku usaha pasca bencana.

Tekanan paling signifikan terlihat pada inflasi. Hingga Desember 2025, inflasi Aceh tercatat mencapai 6,71 persen (yoy), dipicu oleh gangguan pasokan dan distribusi akibat bencana hidrometeorologi. Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan pokok.

Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Aceh Tengah 8,90 persen, diikuti Aceh Tamiang 7,13 persen, Kota Banda Aceh 6,10 persen, disusul Lhokseumawe dan Meulaboh masing-masing 5,56 persen. Inflasi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kondisi kelistrikan yang sempat bermasalah akibat bencana.

Meski demikian, Agus menyebutkan tren inflasi mulai menunjukkan perbaikan. Sejumlah harga komoditas berangsur turun pada awal Januari 2026 seiring pulihnya distribusi pasca bencana.

“Tekanan harga mulai mereda. Ini sinyal positif, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan,” katanya.

Sebagai langkah strategis, Bank Indonesia Provinsi Aceh akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam upaya pemulihan ekonomi dan pengendalian inflasi.

Koordinasi juga akan difokuskan pada percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, termasuk menjaga kelancaran pasokan dan stabilitas harga.

“Pemulihan ekonomi Aceh pasca bencana harus dilakukan bersama-sama agar dampaknya tidak berkepanjangan,” pungkasnya.

Editor: Redaksi

Media Online