NASIONAL

Abu Mudi Apresiasi Kebijakan BGN Aceh yang Libatkan Dayah dalam Program Makan Bergizi Gratis

245
×

Abu Mudi Apresiasi Kebijakan BGN Aceh yang Libatkan Dayah dalam Program Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini
Abu Mudi Samalanga didampingi Kepala BGN Aceh Mustafa Kamal bersilaturahmi dengan Wakil Kepala BGN Brigjen Pol Sony Sanjaya di Hermes Palace Banda Aceh, pada Sabtu (17/1/2026). Foto: Dok. BGN Provinsi Aceh

MITRABERITA.NET | Ulama kharismatik Aceh, Abu Syekh H. Hasanoel Bashry atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mudi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Aceh yang melibatkan dayah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah progresif yang sejalan dengan karakter dan potensi lembaga pendidikan keagamaan di Aceh yang sudah berpengalaman dalam penyediaan makanan bagi santri.

Apresiasi itu secara khusus ditujukan kepada Kepala Regional BGN Provinsi Aceh, Mustafa Kamal, yang dinilai telah membuka ruang partisipasi aktif pesantren atau dayah dalam menyukseskan program strategis nasional tersebut.

Menurut Abu Mudi, keterlibatan dayah bukan hanya relevan, tetapi juga sangat strategis untuk menjamin keberlanjutan dan efektivitas program MBG di Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan Abu Mudi usai bersilaturahmi dengan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Brigjen Pol Sony Sanjaya, dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, pada Sabtu (17/1/2026).

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas penguatan peran pesantren agar tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan turut diberdayakan sebagai bagian dari pelaksana program MBG.

“Kami sangat mengapresiasi Kepala Regional BGN Aceh, Mustafa Kamal, yang telah memperjuangkan agar dayah, termasuk Dayah MUDI, dapat terlibat langsung dalam Program Makan Bergizi Gratis. Ini adalah langkah maju dan menjadi momen yang telah lama kami nantikan,” ujar Abu Mudi dalam keterangan pers yang diterima media, Selasa (20/1/2026).

Abu Mudi menegaskan, selama ini dayah memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dilibatkan dalam program-program nasional. Padahal, pesantren di Aceh telah lama berpengalaman dalam mengelola kebutuhan konsumsi ribuan santri setiap hari dengan sistem yang mandiri dan berkelanjutan.

“Pesantren jangan hanya diposisikan sebagai penerima manfaat. Dayah memiliki sumber daya manusia dan fasilitas yang cukup. Yang dibutuhkan hanyalah pembenahan serta pendampingan agar sesuai dengan standar Program MBG,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengalaman dayah dalam mengelola dapur santri selama puluhan tahun menjadi modal penting untuk mendukung suksesnya program makan bergizi. Meski dengan fasilitas sederhana, dayah terbukti mampu menyediakan konsumsi harian secara rutin, layak, dan berkesinambungan.

“Pengelolaan makanan santri sudah menjadi keseharian dayah. Dengan dukungan, pendampingan, dan standar yang jelas, kami siap berkontribusi maksimal dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis di Aceh,” pungkas Abu Mudi.

Keterlibatan dayah dalam program MBG diharapkan tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pemberdayaan lembaga pendidikan keagamaan sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

Editor: Redaksi

Media Online