DAERAHNUSANTARA

Melirik Kanji Glee Taron, Kuliner Khas Aceh Besar yang Jadi Menu Favorit Ramadan

204
×

Melirik Kanji Glee Taron, Kuliner Khas Aceh Besar yang Jadi Menu Favorit Ramadan

Sebarkan artikel ini
ibu Gampong Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, tengah mengikuti pertemuan pengelolaan kuliner tradisional Kanji Glee Taron sebagai upaya pelestarian kearifan lokal dan peningkatan ekonomi masyarakat menjelang Ramadan, Ahad 18 Januari 2026. Foto: Dok. MB

MITRABERITA.NET | Menjelang bulan suci Ramadan tahun 2026, kuliner tradisional khas Aceh Besar Ie Bu Kanji atau yang lebih dikenal dengan Kanji Glee Taron kembali menjadi perhatian masyarakat.

Makanan khas berbahan racikan 44 jenis daun hutan ini tak hanya dikenal sebagai menu favorit berbuka puasa, tetapi juga menyimpan nilai kearifan lokal, kesehatan, dan ketahanan pangan masyarakat.

Kanji Glee Taron Aceh Besar merupakan kuliner tradisional yang diracik dari daun-daunan yang dipetik dari kawasan hutan Glee Taron Mata Ie.

Makanan ini diproduksi secara turun-temurun oleh ibu-ibu Gampong Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, dan menjadi salah satu ikon kuliner Ramadan di daerah tersebut.

Guna meningkatkan produksi sekaligus memperluas pengenalan Kanji Glee Taron ke masyarakat luas, Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Rimueng Tuhan Gampong Leu Ue menggelar pertemuan bersama kelompok ibu-ibu pelaku usaha kuliner tradisional tersebut. Kegiatan ini berlangsung di Gampong Leu Ue, pada Ahad (18/1/2026).

Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Darul Imarah, Hasbi, serta Penyuluh Kehutanan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Aceh, Zura Amali, SP. Fokus pembahasan diarahkan pada pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa dedaunan hutan yang menjadi bahan utama Kanji Glee Taron.

Ketua LPHD Rimueng Tuhan, Hasan Bin Banta, mengatakan pembinaan terhadap pelaku produksi Kanji Glee Taron bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, serta memberi kontribusi nyata terhadap program ketahanan pangan nasional.

“Kita ingin kuliner tradisional khas Aceh Besar ini semakin dikenal dan tidak kalah saing dengan makanan modern. Karena itu, semangat ibu-ibu pelaku usaha perlu terus digerakkan. Kami di LPHD membantu dari sisi promosi dan pemasaran agar pendapatan mereka meningkat dan sekaligus mendukung program pangan nasional,” ujar Hasan.

Ia menambahkan, Kanji Glee Taron bukan sekadar makanan, melainkan simbol hubungan harmonis antara masyarakat dengan hutan yang dikelola secara lestari dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua KTNA Kecamatan Darul Imarah, Hasbi, menyambut baik upaya pelestarian dan pengembangan kuliner berbasis kearifan lokal tersebut. Menurutnya, Kanji Glee Taron memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Aceh, terutama saat Ramadan.

“Ini makanan yang sangat digemari, khususnya sebagai menu berbuka puasa. Selain lezat, Kanji Glee Taron juga diyakini memiliki manfaat kesehatan karena diracik dari berbagai jenis dedaunan alami,” kata Hasbi, yang juga mantan Imum Mukim Daroy Jeumpet.

Dukungan juga disampaikan oleh Penyuluh Kehutanan KPH Wilayah I Aceh, Zura Amali, SP. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan HHBK berupa daun-daunan hutan untuk produksi Kanji Glee Taron sejalan dengan prinsip pelestarian hutan.

“Produk kuliner ini merupakan kearifan lokal yang patut dijaga. Bahan bakunya berasal dari dedaunan yang tumbuh di lereng Gunung Glee Taron. Dari sisi aturan kehutanan, pemanfaatan ini tidak bermasalah karena yang diambil bukan kayu, melainkan daun,” jelasnya.

Dengan dukungan lintas sektor dan semangat masyarakat, Kanji Glee Taron diharapkan tidak hanya bertahan sebagai tradisi kuliner Ramadan, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan Aceh Besar yang mampu meningkatkan ekonomi warga tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Editor: Redaksi

Media Online