EKONOMI & BISNISNASIONAL

Mentan Amran: Swasembada Pangan Jadi Kinerja Terbaik Kabinet Merah Putih

77
×

Mentan Amran: Swasembada Pangan Jadi Kinerja Terbaik Kabinet Merah Putih

Sebarkan artikel ini
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Foto: Humas Kementan

MITRABERITA.NET | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional merupakan kinerja terbaik Kabinet Merah Putih yang lahir dari gagasan besar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Keberhasilan itu juga disertai kerja kolektif lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat hingga petani dan penyuluh pertanian di seluruh pelosok negeri.

Penegasan tersebut disampaikan Mentan Amran dalam kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang digelar di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1/2026).

“Saya tegaskan sekali lagi, swasembada ini adalah kerja terbaik Kabinet Merah Putih dari gagasan besar Presiden Republik Indonesia dan dari keringat petani Indonesia,” ujar Mentan Amran di hadapan para petani dan tamu undangan.

Ia menekankan, capaian swasembada pangan tidak mungkin diraih apabila hanya mengandalkan Kementerian Pertanian semata. Sejak awal, Presiden Prabowo mendorong kerja lintas sektor dengan target yang jelas serta tenggat waktu yang ketat, sehingga seluruh kementerian dan lembaga bergerak dalam satu komando.

“Swasembada ini bukan kerja saya. Ini kerja kita semua sebagai anak bangsa,” tegasnya.

Mentan Amran mengungkapkan bahwa pada awal perencanaan, target swasembada pangan diproyeksikan dapat tercapai dalam waktu empat tahun. Namun, seiring dengan arahan Presiden, tenggat tersebut dipercepat menjadi tiga tahun, bahkan hanya satu tahun, yang menuntut kerja ekstra dan lompatan kinerja di seluruh lini.

“Awalnya empat tahun, lalu tiga tahun, kemudian satu tahun. Saat jadi satu tahun, kami vertigo. Tapi alhamdulillah hari ini hasilnya mulai terlihat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kementerian dan lembaga yang ikut menopang agenda besar pangan nasional.

Salah satu kebijakan strategis yang disorot adalah penyederhanaan regulasi pupuk, yang berhasil diterbitkan hanya dalam satu hari dan memberikan dampak langsung bagi petani. “Harga pupuk turun 20 persen,” kata Mentan Amran.

Ia bahkan memastikan langsung kepada petani yang hadir. “Turun pupuknya?” tanyanya. “Turun!” jawab para petani serempak.

Tak hanya harga, Mentan Amran menyebut ketersediaan pupuk melonjak drastis hingga 700 persen. Pemerintah juga membangun tujuh pabrik pupuk baru tanpa membebani anggaran negara, sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan jangka panjang.

Di sisi pengawasan, Mentan Amran menegaskan pemerintah tidak mentoleransi pelanggaran di sektor pertanian. Sebanyak 2.300 izin usaha telah dicabut karena melanggar aturan, khususnya praktik mempermainkan harga di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Begitu main harga di atas HET, izinnya langsung kami cabut,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini telah ditetapkan 192 tersangka dalam berbagai kasus pangan. Pejabat di bawah jajarannya yang terbukti melanggar atau tidak menjalankan perintah Presiden, kata Amran, langsung dicopot dari jabatannya.

“Kami hanya menjalankan perintah Presiden. Tidak boleh ada mafia di pertanian,” ujarnya.

Mentan Amran menilai sinergi lintas sektoral, termasuk dengan aparat penegak hukum, TNI, Polri, serta seluruh pemangku kepentingan pertanian, menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pangan dan harga.

“Petani kita ada 160 juta orang. Kalau dihitung dengan sektor hilirisasi, ada sekitar 180 juta rakyat Indonesia yang hidup dari pertanian,” katanya.

Menutup pernyataannya, Mentan Amran menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan kerja kolektif Kabinet Merah Putih dalam menjalankan gagasan besar Presiden di sektor pangan.

Produksi pangan nasional terus meningkat, impor berhasil ditekan, dan ekspor pertanian melonjak hingga 33 persen.

Saat ini, stok pangan nasional tercatat mencapai 3,2 juta ton, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) menembus angka 125,35 atau tertinggi sepanjang sejarah, yang mencerminkan meningkatnya kesejahteraan petani sebagai tujuan utama kebijakan pangan nasional.

Editor: Redaksi

Media Online