DINAMIKANASIONAL

NasDem Pecat Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, PAN Proses Pengunduran Diri Uya Kuya dan Eko Patrio

1399
×

NasDem Pecat Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, PAN Proses Pengunduran Diri Uya Kuya dan Eko Patrio

Sebarkan artikel ini
Nafa Urbach, Ahmad Sahroni, Uya Kuya dan Eko Patrio dipecat dari anggota DPR. Foto: Dok. MB

MITRABERITA.NET | Dalam gemuruh demonstrasi menolak tunjangan super besar DPR, Partai politik utama mengambil langkah berani dengan menonaktifkan anggota DPR dari partai mereka.

Dikutip MITRABERITA.NET dari berbagai sumber, dua anggota DPR dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) memproses pengunduran diri Eko Patrio dan Uya Kuya.

Tindakan tegas ini dilakukan menyusul gelombang amarah demonstran yang menyasar pernyataan kontroversial mereka, memicu kemarahan publik hingga berujung kerusuhan.

Partai NasDem resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach efektif mulai 1 September 2025 besok, sebagaimana diumumkan dalam maklumat DPP yang ditandatangani Ketua Umum Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim.

Alasan utamanya, pernyataan mereka kepada publik dianggap menyakiti perasaan rakyat dan mencederai cita-cita perjuangan partai yang berakar dari semangat kerakyatan.

Sahroni sebelumnya dicopot dari posisi Wakil Ketua Komisi III dan dipindahkan ke Komisi I, namun kritik terus mengalir hingga menimbulkan penjarahan terhadap rumahnya di Tanjung Priok.

Tak mau ketinggalan, PAN memutuskan menonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya dari kursi DPR RI juga efektif mulai 1 September 2025, setelah keduanya menyatakan mundur.

Pernyataan mereka yang memancing kontroversi hingga memunculkan kerusuhan membuat internal PAN mendesak langkah tegas, termasuk pembahasan pengunduran diri atau nonaktif resmi.

Menurut laporan, Ahmad Sahroni sempat menyebut masyarakat “orang tolol sedunia” ketika mereka menuntut pembubaran DPR. Pernyataan ini menjadi bahan bakar kemarahan publik.

Sementara, Nafa Urbach memicu kritik lantaran mengeluh soal kemacetan saat menuju DPR, yang dianggap jauh dari realitas rakyat yang berjuang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Kalimat kasar dan nada yang dinilai tak empatik membuat massa juga menyerang kediaman mereka. Rumah Sahroni dibobol dan dilooting, seluruh barang mewah dikeluarkan ke jalan, dan sebagian besar barang di rumahnya dibawa pulang massa.

Tidak lama kemudian, kelompok massa juga menyerbu rumah Eko Patrio dan Uya Kuya, mengobrak-abrik elektronik, furnitur, bahkan menaruh kotoran di atas pagar.

Eko Patrio, Uya Kuya, dan Nafa Urbach kemudian meminta maaf secara terbuka. Namun, maaf dianggap terlambat dan gagal meredam amarah publik yang sudah membara.

Pengamat politik menilai keputusan partai ini sebagai upaya menyelamatkan citra sekaligus merespons tuntutan rakyat yang lelah terhadap praktik elit yang tak sensitif dengan kondisi bangsa.

Langkah ini juga menjadi preseden penting, ketika wakil rakyat dianggap menjadi penyebab kerusuhan, maka mereka pun harus siap menerima konsekuensi politik secara frontal.

Peristiwa ini semakin menambah tekanan publik agar mekanisme pengawasan parlemen diperketat, mulai dari transparansi gaji dan tunjangan hingga etika komunikasi para politisi.

Editor: Tim Redaksi

Media Online