NASIONALPERISTIWA

13 Calon Petugas Haji Dicoret saat Diklat, Ada yang Palsukan Medical Check Up

13276
×

13 Calon Petugas Haji Dicoret saat Diklat, Ada yang Palsukan Medical Check Up

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak seusai pengukuhan petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (30/1/2026). Foto: Kemenhaj

MITRABERITA.NET | Sebanyak 13 calon petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) Arab Saudi terpaksa dicopot dari proses pendidikan dan pelatihan (diklat) setelah terbukti melakukan sejumlah pelanggaran serius. Pencopotan itu dilakukan selama pelaksanaan diklat PPIH yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak seusai pengukuhan PPIH Arab Saudi, pada Jumat (30/1/2026). “Tadi malam laporan ke saya itu ada 13 orang yang dicopot dari proses diklat,” kata Dahnil.

Menurut Dahnil, pencopotan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tim pelatih akibat berbagai pelanggaran, mulai dari indisipliner, pemalsuan absensi, penyakit kronis, hingga pemalsuan hasil Medical Check Up (MCU).

Bahkan, seperti dilansir Inilah.com, ditemukan peserta yang diketahui mengidap tuberkulosis (TBC) namun memalsukan dokumen kesehatan agar dapat mengikuti seleksi.

Dahnil menegaskan tidak ada perlakuan istimewa bagi siapa pun yang ingin menjadi petugas haji. Seluruh tahapan pendidikan dan pelatihan harus dijalani secara penuh, disiplin, dan transparan. Hal ini mengingat petugas haji merupakan garda terdepan dalam melayani jamaah haji, yang disebutnya sebagai tamu-tamu Allah SWT.

“Akhirnya ya sudah kita mau orang yang siap 20 hari fokus di sini, ikut pelatihan, ikut aturan dan sebagainya. Dan itu semuanya keputusan diambil oleh tim pelatih dari teman-teman TNI dan Polri,” tutur Dahnil.

Ia juga menegaskan bahwa standar disiplin tersebut tidak berhenti pada masa diklat. Saat bertugas di Tanah Suci, seluruh petugas haji wajib menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional. Jika terbukti lalai, sanksi tegas akan langsung diberikan.

“Ya kami evaluasi, kami akan langsung keluarkan. Jadi ini nanti, kan gini loh, yang publik harus tahu petugas haji ini dibayar loh, mereka digaji. Jadi memang kerjanya meletihkan ya, kalau istilah saya itu bisa 25 jam,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dahnil kembali mengingatkan bahwa tujuan utama petugas haji adalah memberikan pelayanan optimal kepada jamaah, bukan sekadar memanfaatkan kesempatan untuk ikut berhaji.

“Kami itu adalah ingin memastikan petugas haji itu niat utamanya itu adalah menjadi petugas haji bukan orang-orang yang nebeng naik haji. Karena mereka sudah dilatih cukup lama sebagai sebuah tim,” tegasnya.

Diketahui, para PPIH Arab Saudi telah menjalani pendidikan dan pelatihan selama 20 hari secara tatap muka di Asrama Haji Pondok Gede. Selanjutnya, mereka masih akan mengikuti diklat daring selama 10 hari sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.

Dahnil juga mengungkapkan bahwa latar belakang petugas haji tahun ini sangat beragam, mulai dari dokter, aparat keamanan, jurnalis, hingga profesor dan akademisi. Meski berasal dari berbagai profesi, seluruhnya dituntut bekerja dalam satu komando dan satu misi sebagai petugas haji.

Editor: Redaksi

Media Online